Senin, 02 Desember 2013

Coffee addicted ^^



Secangkir Kopi Tubruk

Aku seorang bocah, dan aku lebih suka mendengar kisah. Kakekku seorang petualang kisah terbaik. Yang pernah ada. Untuk sebuah kisah aku menyuguhkan secangkir kopi tubruk kesukaan nya. Harus benar-benar panas atau akan memancing marahnya. Sekilas tampak rahasia guratan lelah diwajahnya. Sedikit sekali canda bahkan tawa. Kakek bukan patriotik tapi dia selalu berwibawa. Terlihat bangga saat melamunkan masa-masa mudanya. Sesekali aku selalu memandang Kakek, tangan nya selalu sibuk. Matanya bergerilya tentang sesuatu. Tangan nya, bahkan kakinya selalu hinggap kesana. Aku menyebutnya sudut bingkai. Sesaat aku hanya berpikir, kenapa matanya terlihat lebih kecil? Aku hanya berkelakar dalam batin. Jenuh menunggu jawaban dari Kakek yang sedikit berucap. Hanya saat berkisah, tawa dan kebangaan nya mekar.

Suatu sore aku bertekad. Ingin sekali lagi mendengar kisahnya, yang selalu berulang-ulang dalam pikiranku. Aku tak bisa berkisah lagi, aku sudah banyak berkisah pada mu katanya renta. Aku kembali menyogok secangkir kopi tubruk. Kali ini jauh lebih panas. Aku mulai tertawa dihadapan nya, bibir dan mata tuanya akan bercerita... Katanya, waktu itu Kakek masih muda. Suka dengan bau-bauan wangi dari rempah-rempah. Wanginya berbeda, jauh dengan wangi wanita jaman Belanda. Kakek tertawa renta lagi. Aku masih tak bisa menangkap maksudnya. Tapi jujur lebih suka melihat wanita Belanda ketimbang jajaran Romusa. Hanya tulang dan kulit yang menjuntai, kesedihan dan tatapan kelam. Mata Kakek kembali menerawang, dia menatapku tajam. Batinku bertanya tentang apa semua yang dikisahkan nya itu? Tapi aku tetap sabar.

Kali ini akan berkisah yang sesungguhnya. Aku hanya terus melihat guratan wajah Kakek, berusaha menerka banyak kata. Diawali kisah diri sebagai juragan tembakau. Semua berawal dari pulau yang jauh disana, dataran Cina tempat asalnya. Aku heran kenapa terdampar sejauh itu? pertama sekilas mata memandang, aku hanya tertegun. Kakek mulai berkisah. Katanya saat itu tepat dihadapan mata, hamparan pematang sawah mempesona dirinya. Mau memeluk dan mengingini semuanya dengan serakah. Aku masih terdiam. Memandangi mahkluk berjalan lenggok di tengahnya. Kain nya rupawan, bercorak dan berwarna. Matanya terpana. Bernafaslah sebentar, Kakek ingin jujur mengatakan nya. Perlahan melangkah, mengambil secarik kenangan nya. Nenek disana terlihat muda. Alasan Kakek selalu mencintai Indonesia. Tuturnya lembut bagai kapas sutra, tatapan nya hangat seperti matahari senja. Membayangkan nya saja terlalu indah. Aku masih bocah, tak sepaham dengan kisahnya. Kakek kembali membingkai tawa, memberikan selembar harapan. Ya, aku kenal betul sosok Ayah. Pengelana sejati yang lebih suka mencium gunung dan tanah daripada darah dagingnya. Hatiku bergerak menatap rupa Ayah, meneriap dan terjebak dalamnya. Dua pria yang menjerat batinku untuk selalu bertanya-tanya. Aku kaget, Kakek menerkam kopi tubruk itu secepat kalimat singkat. Ini hidup katanya pekat.
Sore sekali lagi menjulang senja, sepi menganyam tawa. Kakek selalu terbawa saat menikmati secangkir kopi surga. Hidupku selalu dengan nya, tinggal di tempat hijau penuh rasa. Sejuk, nyaman dan mempesona membuatku betah. Umurnya sangat tua, ratusan dia bertahan mengandalkan tawa dan kisah. Seperti meracuni batin Ayah, yang sekarang menjalar menyerangku. Satu yang tak terhindar, rumahku penuh sejarah. Terukir dalam bingkai dan lembaran fakta. Kakek dan Ayah penggila Indonesia. Kali ini kuamati dalam tenang, mencoba mencari jawaban dalam tiap bingkai kiriman. Itu kali pertama Ayah mu mencintainya, mencumbunya dengan lensa dan cerita, air terjun Madakaripura. Mataku berpeluh, silau melihat kilatan pelangi yang terperangkap disana. Ini semakin memikat saat terhenti. Itu sipiso-piso, salah satu simpanan terbaik Ayah mu. Air menjulang tinggi, seperti jatuh dan akan memenuhi bumi. Pikirku untuk apa semua ini? Mataku memuncak, seperti kubangan warna. Pantai senggigi, belahan jiwa Ayahmu saat merindukan Ibumu. Terumbu karang pernah berbisik cinta padanya. Aku hanya berdecak dan berpikir apa dari sana aku dibentuk? Kakek pernah bercerita, seingatku disana Ibu menemukan jantung hatinya. Sejauh mata memandang, sedekat hati terasa. Dan dari situ aku ada.

Rumit dan buram dalam ingatanku, Ibu bagiku hanya selembar bingkai yang selalu tersenyum menatapku. Semua duniaku terasa membingungkan. Mungkin satu-satunya yang aku tahu, Kakek berumur panjang. Kujerat sekali lagi lembaran itu. Wow! Tersedak dengan jajaran gunung tinggi dan warnaan pelangi dalam airnya. Pulau Raja Ampat, persinggahan terakhir yang Kakek inginkan. Kakek terus berujar sebelum secangkir kopi menubruknya perlahan. Kenapa Ayah tak mengajak ku menjejakan kakiku? Tanya ku lugas sebagai bocah. Kakek terdiam, baru kali ini tawanya berganti duka. Dalam dan terasa pedih. Aku mengalihkan pandangan dan menatap salah satu wajah. Jembatan Cinta dalam jebakan pulau Tidung, birunya mematikan, membuatmu tak ingin tersadar. Kakek kembali dengan tawanya, jemarinya memungut berkas cangkir yang ternyata pecah. Kopi itu tertinggal dan bernoda di salah satu bajunya. Aku tak bisa menggapainya. Kakek hanya berusaha membuatku kembali menatap suka. Seperti pelukan Ibu dan anak, Gunung rinjani mengajari banyak hal. Kakek membuatku mulai bosan. Aku lebih suka Kakek berkisah ucapku lantang. Kopi yang terkoyak itu hanya tetap tergeletak di bawah lantai yang putih bening.

Kali ini giliran Kawah Ijen, semangatnya masih menyembur hidup. Menghidupi ratusan mulut yang berharap sedekah. Kakek seperti sedang berkisah, tapi kali ini jarang terdengar darinya. Mataku jujur terpanah tudingan tangan Kakek. Kelimutu, danau berwarnanya menjebak jiwa dan menangkap raga. Aku sedikit menatap Kakek, matanya berbinar dan bersemangat. Tangan nya merengkuh tubuhku yang terjebak dikursi tak berdaya. Tangan nya sesekali mengusap kepala ku dengan lembut. Pandangan menakjubkan itu tak kupercaya, tapi nyatanya Ayah menghabiskan hampir seluruh hidupnya. Menata bingkai dan semacam surga ini rapi di tiap dinding. Apa kematian Ibu membuat Ayah tersiksa? Melarikan diri dari dunia nyata untuk mencari Surga? Aku masih polos untuk memikirkan itu. Aku hanya percaya Kakek, dia mengerlipkan nadinya, mengguratkan tawa menunjuk bingkai ke tiga. Hamparan luasnya menghubungkan dua dunia, Danau Toba. Jangan sekali-kali ingin memberi nama lain padanya bisik Kakek.

Aku mulai jenuh, apa ini nyata? Hidupku seperti terkotak, tertata seperti bingkai-bingkai. Hanya menyaksikan tangkapan lensa Ayah dan mendengar kisah jemu Kakek. Pantai Maluk! Birunya menggila, Ayahmu selalu berhasil menidurinya. Riang Kakek sedikit membangunkan aku. Ini, Bromo auman nya selalu terjaga, bahkan Ayahmu tak dapat mempersuntingnya. Baluran, baginya ini gunung petaka yang diam-diam dirindukan nya. Hijaunya membuat selalu memanggil untuk kembali. Aku berhasil terkesima, jujur memang aku selalu terkesima saat Kakek berkelakar. Ayahmu tetap setia pada Sentani, danau dengan gugusan manis ditengahnya. Memikat setiap mimpi mu. Kakek semakin bersemangat, bahkan dibingkai yang sama dia berkisah dengan banyak bahasa dan cara. Aku semakin terjerat, kadang merasa bersalah. Baru kali ini aku menatap kopi tubruk yang panas itu sedingin salju kutub. Tak sejengkalpun Kakek mendekatinya. Manusia rapuh itu terus berada disampingku, hanya menatapi tangkapan Ayah. Menjelaskan panjang lebar dengan jelas dan gamblang. Kali ini Kakek terdiam, menatap dalam. Mungkin ini seperti ujung dunia, saat semua mahkluk bertemu. Derawan, pulau itu seperti penghubung dunia kita dan nirwana. Mungkin pikirku matang saat menatapnya.

Kupikir, kupandang dan kuamati. Kupikir aku akan menemukan jawaban. Ya, usia ku menginjak kepala tiga. tiga puluh lebih dua tahun tepatnya. Aku bukan lagi bocah. Tapi kenapa aku terjebak dikursi tak berdaya. Bukankah aku harus bergumul dengan Indonesia. Mungkin seperti Kakek dan Ayah. Seperti seorang pria merindukan kebebasan, demikian aku dapati bulan-bulananku yang sia-sia. Seperti telah ditentukan pada ku malam-malam penuh penyesalan. Hari-hari ku berlalu cepat dari pada Mawar. Kulihat Kakek masih setia dengan secangkir kopi tubruknya. Kupandangi Ayah yang menggelora berkelana. Dan kusadari aku meminang Cystic Fibrosis, itulah mengapa hidupku terkotak. Serupa dengan Nenek dan Ibu tanpa sengaja mengenalnya. Bukan, aku tahu ini bukan tentang inang yang mengerikan.

Kakek berkisah dan ayah berkelana untuk aku. Supaya jelas asalku, pasti Pertiwiku dan tempat perhentianku. Darinya aku tahu yang termanis dari Sabang sampai Marauke, apa itu cincin api, Nihiwatu, pantai yang menyihir dunia. Namun diam-diam Ayah menjerat surga, Pulau Wakatobi yang menjadi persinggahan terakhir mataku. Meski tak sempat kujenguk dasarnya, aku bahagia bisa menikmati cangkir terakhir kopi tubruk. Memandang bingkai kotak sambil berbangga. Pernah ada dan telah lahir di Indonesia. Sekejap aku berbaring dalam debu menyatu dengan tanah yang sering dicium dan dipeluk Ayah. 


by : yanne sumayow

Tidak ada komentar:

Posting Komentar