Secangkir Kopi Tubruk
Aku seorang bocah, dan aku lebih suka mendengar
kisah. Kakekku seorang petualang kisah terbaik. Yang pernah ada. Untuk sebuah
kisah aku menyuguhkan secangkir kopi tubruk kesukaan nya. Harus benar-benar
panas atau akan memancing marahnya. Sekilas tampak rahasia guratan lelah
diwajahnya. Sedikit sekali canda bahkan tawa. Kakek bukan patriotik tapi dia
selalu berwibawa. Terlihat bangga saat melamunkan masa-masa mudanya. Sesekali
aku selalu memandang Kakek, tangan nya selalu sibuk. Matanya bergerilya tentang
sesuatu. Tangan nya, bahkan kakinya selalu hinggap kesana. Aku menyebutnya
sudut bingkai. Sesaat aku hanya berpikir, kenapa matanya terlihat lebih kecil?
Aku hanya berkelakar dalam batin. Jenuh menunggu jawaban dari Kakek yang sedikit
berucap. Hanya saat berkisah, tawa dan kebangaan nya mekar.
Suatu sore aku bertekad. Ingin sekali lagi mendengar
kisahnya, yang selalu berulang-ulang dalam pikiranku. Aku tak bisa berkisah lagi, aku sudah banyak berkisah pada mu
katanya renta. Aku kembali menyogok secangkir kopi tubruk. Kali ini jauh lebih
panas. Aku mulai tertawa dihadapan nya, bibir dan mata tuanya akan bercerita...
Katanya, waktu itu Kakek masih muda. Suka dengan bau-bauan wangi dari
rempah-rempah. Wanginya berbeda, jauh
dengan wangi wanita jaman Belanda. Kakek tertawa renta lagi. Aku masih tak
bisa menangkap maksudnya. Tapi jujur
lebih suka melihat wanita Belanda ketimbang jajaran Romusa. Hanya tulang dan
kulit yang menjuntai, kesedihan dan tatapan kelam. Mata Kakek kembali menerawang,
dia menatapku tajam. Batinku bertanya tentang apa semua yang dikisahkan nya
itu? Tapi aku tetap sabar.
Kali ini akan
berkisah yang sesungguhnya. Aku hanya terus melihat guratan wajah
Kakek, berusaha menerka banyak kata. Diawali kisah diri sebagai juragan
tembakau. Semua berawal dari pulau yang jauh disana, dataran Cina tempat
asalnya. Aku heran kenapa terdampar sejauh itu? pertama sekilas mata memandang,
aku hanya tertegun. Kakek mulai berkisah. Katanya saat itu tepat dihadapan mata,
hamparan pematang sawah mempesona dirinya. Mau memeluk dan mengingini semuanya
dengan serakah. Aku masih terdiam. Memandangi mahkluk berjalan lenggok di
tengahnya. Kain nya rupawan, bercorak dan berwarna. Matanya terpana. Bernafaslah sebentar, Kakek ingin jujur mengatakan
nya. Perlahan melangkah, mengambil secarik kenangan nya. Nenek disana
terlihat muda. Alasan Kakek selalu mencintai Indonesia. Tuturnya lembut bagai kapas sutra, tatapan nya hangat seperti matahari
senja. Membayangkan nya saja terlalu indah. Aku masih bocah, tak sepaham
dengan kisahnya. Kakek kembali membingkai tawa, memberikan selembar harapan.
Ya, aku kenal betul sosok Ayah. Pengelana sejati yang lebih suka mencium gunung
dan tanah daripada darah dagingnya. Hatiku bergerak menatap rupa Ayah, meneriap
dan terjebak dalamnya. Dua pria yang menjerat batinku untuk selalu
bertanya-tanya. Aku kaget, Kakek menerkam kopi tubruk itu secepat kalimat
singkat. Ini hidup katanya pekat.
Sore sekali lagi menjulang senja, sepi menganyam
tawa. Kakek selalu terbawa saat menikmati secangkir kopi surga. Hidupku selalu
dengan nya, tinggal di tempat hijau penuh rasa. Sejuk, nyaman dan mempesona
membuatku betah. Umurnya sangat tua, ratusan dia bertahan mengandalkan tawa dan
kisah. Seperti meracuni batin Ayah, yang sekarang menjalar menyerangku. Satu
yang tak terhindar, rumahku penuh sejarah. Terukir dalam bingkai dan lembaran
fakta. Kakek dan Ayah penggila Indonesia. Kali ini kuamati dalam tenang,
mencoba mencari jawaban dalam tiap bingkai kiriman. Itu kali pertama Ayah mu mencintainya, mencumbunya dengan lensa dan
cerita, air terjun Madakaripura. Mataku berpeluh, silau melihat kilatan pelangi
yang terperangkap disana. Ini semakin memikat saat terhenti. Itu sipiso-piso, salah satu simpanan terbaik Ayah mu. Air menjulang
tinggi, seperti jatuh dan akan memenuhi bumi. Pikirku untuk apa semua ini? Mataku
memuncak, seperti kubangan warna. Pantai
senggigi, belahan jiwa Ayahmu saat merindukan Ibumu. Terumbu karang pernah berbisik cinta padanya. Aku hanya berdecak
dan berpikir apa dari sana aku dibentuk? Kakek pernah bercerita, seingatku
disana Ibu menemukan jantung hatinya. Sejauh mata memandang, sedekat hati
terasa. Dan dari situ aku ada.
Rumit dan buram dalam ingatanku, Ibu bagiku hanya
selembar bingkai yang selalu tersenyum menatapku. Semua duniaku terasa
membingungkan. Mungkin satu-satunya yang aku tahu, Kakek berumur panjang. Kujerat
sekali lagi lembaran itu. Wow!
Tersedak dengan jajaran gunung tinggi dan warnaan pelangi dalam airnya. Pulau Raja Ampat, persinggahan terakhir yang
Kakek inginkan. Kakek terus berujar sebelum secangkir kopi menubruknya
perlahan. Kenapa Ayah tak mengajak ku menjejakan kakiku? Tanya ku lugas sebagai
bocah. Kakek terdiam, baru kali ini tawanya berganti duka. Dalam dan terasa
pedih. Aku mengalihkan pandangan dan menatap salah satu wajah. Jembatan Cinta dalam jebakan pulau Tidung,
birunya mematikan, membuatmu tak ingin tersadar. Kakek kembali dengan
tawanya, jemarinya memungut berkas cangkir yang ternyata pecah. Kopi itu
tertinggal dan bernoda di salah satu bajunya. Aku tak bisa menggapainya. Kakek
hanya berusaha membuatku kembali menatap suka. Seperti pelukan Ibu dan anak, Gunung rinjani mengajari banyak hal.
Kakek membuatku mulai bosan. Aku lebih suka Kakek berkisah ucapku lantang. Kopi
yang terkoyak itu hanya tetap tergeletak di bawah lantai yang putih bening.
Kali ini giliran
Kawah Ijen, semangatnya masih menyembur hidup. Menghidupi ratusan mulut yang berharap
sedekah. Kakek seperti sedang berkisah, tapi kali ini jarang terdengar
darinya. Mataku jujur terpanah tudingan tangan Kakek. Kelimutu, danau berwarnanya menjebak jiwa dan menangkap raga. Aku
sedikit menatap Kakek, matanya berbinar dan bersemangat. Tangan nya merengkuh
tubuhku yang terjebak dikursi tak berdaya. Tangan nya sesekali mengusap kepala
ku dengan lembut. Pandangan menakjubkan itu tak kupercaya, tapi nyatanya Ayah
menghabiskan hampir seluruh hidupnya. Menata bingkai dan semacam surga ini rapi
di tiap dinding. Apa kematian Ibu membuat Ayah tersiksa? Melarikan diri dari
dunia nyata untuk mencari Surga? Aku masih polos untuk memikirkan itu. Aku
hanya percaya Kakek, dia mengerlipkan nadinya, mengguratkan tawa menunjuk
bingkai ke tiga. Hamparan luasnya
menghubungkan dua dunia, Danau Toba. Jangan sekali-kali ingin memberi nama
lain padanya bisik Kakek.
Aku mulai jenuh, apa ini nyata? Hidupku seperti
terkotak, tertata seperti bingkai-bingkai. Hanya menyaksikan tangkapan lensa
Ayah dan mendengar kisah jemu Kakek. Pantai
Maluk! Birunya menggila, Ayahmu selalu berhasil menidurinya. Riang Kakek
sedikit membangunkan aku. Ini, Bromo
auman nya selalu terjaga, bahkan Ayahmu tak dapat mempersuntingnya. Baluran, baginya ini gunung petaka yang
diam-diam dirindukan nya. Hijaunya membuat selalu memanggil untuk kembali.
Aku berhasil terkesima, jujur memang aku selalu terkesima saat Kakek
berkelakar. Ayahmu tetap setia pada
Sentani, danau dengan gugusan manis ditengahnya. Memikat setiap mimpi mu.
Kakek semakin bersemangat, bahkan dibingkai yang sama dia berkisah dengan
banyak bahasa dan cara. Aku semakin terjerat, kadang merasa bersalah. Baru kali
ini aku menatap kopi tubruk yang panas itu sedingin salju kutub. Tak
sejengkalpun Kakek mendekatinya. Manusia rapuh itu terus berada disampingku,
hanya menatapi tangkapan Ayah. Menjelaskan panjang lebar dengan jelas dan
gamblang. Kali ini Kakek terdiam, menatap dalam. Mungkin ini seperti ujung
dunia, saat semua mahkluk bertemu.
Derawan, pulau itu seperti penghubung dunia kita dan nirwana. Mungkin
pikirku matang saat menatapnya.
Kupikir, kupandang dan kuamati. Kupikir aku akan
menemukan jawaban. Ya, usia ku menginjak kepala tiga. tiga puluh lebih dua
tahun tepatnya. Aku bukan lagi bocah. Tapi kenapa aku terjebak dikursi tak
berdaya. Bukankah aku harus bergumul dengan Indonesia. Mungkin seperti Kakek
dan Ayah. Seperti seorang pria merindukan kebebasan, demikian aku dapati
bulan-bulananku yang sia-sia. Seperti telah ditentukan pada ku malam-malam
penuh penyesalan. Hari-hari ku berlalu cepat dari pada Mawar. Kulihat Kakek
masih setia dengan secangkir kopi tubruknya. Kupandangi Ayah yang menggelora
berkelana. Dan kusadari aku meminang Cystic Fibrosis, itulah mengapa
hidupku terkotak. Serupa dengan Nenek dan Ibu tanpa sengaja mengenalnya. Bukan,
aku tahu ini bukan tentang inang yang mengerikan.
Kakek berkisah dan ayah berkelana untuk aku. Supaya
jelas asalku, pasti Pertiwiku dan tempat perhentianku. Darinya aku tahu yang
termanis dari Sabang sampai Marauke, apa itu cincin api, Nihiwatu, pantai yang
menyihir dunia. Namun diam-diam Ayah menjerat surga, Pulau Wakatobi yang
menjadi persinggahan terakhir mataku. Meski tak sempat kujenguk dasarnya, aku
bahagia bisa menikmati cangkir terakhir kopi tubruk. Memandang bingkai kotak
sambil berbangga. Pernah ada dan telah lahir di Indonesia. Sekejap aku
berbaring dalam debu menyatu dengan tanah yang sering dicium dan dipeluk Ayah.
by : yanne sumayow
Tidak ada komentar:
Posting Komentar